Aku hanya ingin kau tahu, anakku. Bukan aku ingin dikasihani aku menceritakan kisahku. Aku hanya ingin engkau tahu. Jika kau tak mengerti, tak apa. Aku mengerti. Anggap saja ini sebagai angin lalu. Anggap saja kau tak mendengar kisahku.
Kau tahu, anakku. Ayahmu dan aku menikah bukan atas nama cinta. Ayahku, kakekmu, memaksa aku menikahi ayahmu. Kau tahu sendiri kakekmu, anakku. Jika beliau sudah menginginkan sesuatu, tak ada yang bisa menghalangi. Air mataku tak mampu menghalangi kakekmu untuk menjodohkan aku dengan ayahmu. Ayahmu saat itu duda dengan anak tiga. Bahkan ayahmu pernah menikah dua kali sebelum dengan aku. Tetapi ayahmu gagal mengarungi bahtera perkawinan dengan wanita-wanita sebelum aku. Akhirnya ayahmu bercerai dengan mereka. Dan ayahmu memilih aku sebagai pendampingnya, walaupun itu mendapat tentangan dari semua keluarganya. Keluarga ayahmu tak menghendaki aku berada di tengah-tengah keluarga besar mereka yang terpandang di masyarakat. Kata mereka, aku hanya ingin mengeruk harta dan memanfaatkan kedudukan ayahmu saja. Padahal persetan dengan itu semua. Aku tak butuh uang dan kehormatan mereka. Aku dipaksa!
Ketika aku menikah dengan ayahmu, tak ada satupun keluarga ayahmu yang datang memberi restu. Ayahmu datang sendirian menikahiku. Waktu itu aku hanya bisa diam menuruti kehendak kakekmu, walaupun sebenarnya ada tangis dalam hati. Upacara pernikahan berjalan meriah, walaupun hatiku tak semeriah pesta itu. Tapi aku berusaha larut dalam kebahagiaan. Dia sudah menjadi suamiku. Aku tak bisa mengubah itu. Aku hanya bisa mengubah perasaanku padanya. Aku mulai berusaha mencintai dia.
Seminggu kemudian, aku di bawa ayahmu ke rumahnya. Tak ada pesta meriah untuk menyambutku. Kedua adik perempuan ayahmu dan ibunya telah memasang wajah tak senang ketika berhadapan denganku. Tak ada senyum. Yang ada hanyalah ludah mereka yang mengenai bajuku ketika aku melalui mereka. Sadis memang. Tapi ayahmu menenangkan aku. Kau tahu anakku, demi ayahmu aku tak mengumbar emosiku. Aku berusaha bersabar. Sabar yang akhirnya aku tahu, tak akan pernah berakhir. Sabar yang harus aku tanam selamanya. Selama aku menjadi istri ayahmu.
Anakku, semenjak saat itu aku tinggal dengan ayahmu dan keluarga besar mereka. Bisa kau bayangkan anakku, ketika dua kutub yang berlawanan disatukan dalam satu tempat. Mereka akan saling menolak. Demikian aku dan keluarga ayahmu. Apa yang aku lakukan semuanya salah di mata mereka. Bahkan diamku ketika mendapat cibiran mereka pun merupakan kesalahan. Dan ayahmu tak bisa berbuat apa-apa. Yang selalu dan selalu dia katakan hanyalah menyuruhku untuk bersabar. Mungkin kalau penganugerahan penghargaan, akulah pemenangnya sebagai wanita tersabar di seluruh dunia. Setiap hari telingaku memerah mendengar ucapan mereka. Tapi seperti biasanya, ayahmu hanya bisa menyuruhku untuk bersabar ketika aku mengadukan perbuatan mereka. Aku merasa ayahmu tidak berguna sebagai seorang laki-laki, satu-satunya laki-laki yang ada di keluarganya. Ayahmu tak mempunyai kekuasaan penuh dalam keluarganya, walaupun dia laki-laki. Bagaimana aku bisa mencintai laki-laki seperti itu, laki-laki yang tak mampu melindungi perasaan istrinya ?
Empat tahun kemudian aku mempunyai kau anakku, seorang putri yang menurutku sangat cantik. Walaupun kau legam tapi kaulah permata hitamku. Biarpun orang-orang menyebutmu jelek, tapi kaulah anakku. Kehadiranmu adalah pelipur hatiku. Seakan terobati semua siksa batin yang aku alami selama ini. Awalnya aku berharap kehadiranmu merubah sikap mereka, atau minimal nenekmu, ibu ayahmu. Tapi ternyata aku salah. Mereka semakin gencar mengintimidasi aku. Aku tak tahan. Ingin sekali aku pisah dengan ayahmu saat itu. Tapi ayahmu melarangku. Ia tak ingin mengalami kegagalan yang ketiga kalinya. Ayahmu mengatakan kalau aku cerai dengannya berarti aku kalah. Aku menyerah. Benar sekali kata ayahmu, nak. Aku tak mau kalah dengan mereka. Aku wanita kuat. Walaupun sakit, aku mencoba untuk bertahan.
Hari demi hari kau tumbuh anakku. Kau sehat. Dan aku senang akan hal itu. Tapi mereka tidak. Mereka selalu iri melihat aku bahagia. Tapi seperti biasa anakku, ayahmu tak mampu berbuat apa-apa. Demi membungkam mereka, ayahmu mau menuruti semua keinginan mereka. Ayahmu sering melupakan aku dan kamu, anakku. Bisakah kau rasakan perasaanku, anakku, rasanya di lupakan ? ketika ayahmu memberi mereka nasi dan memberi kita sepotong roti tiap hari ? perasaan marah kepada ayahmu lah yang membuat aku sering memukulmu. Maafkan aku anakku. Aku tak bermaksud begitu. Aku bukan ibu yang baik buatmu. Aku tak menyalahkanmu ketika akhirnya kau berontak. Kau menjadi anak yang sulit diatur. Tapi kau tahu anakku, itu menyakitkanku. Berontakmu semakin aku ingin memukulmu, walau sebenarnya aku tak ingin. Kau tahu anakku? Sering ketika kau tertidur, aku membelai rambut lurusmu, menangis di hadapmu, aku mengucapkan maaf atas nasibmu, dan nasibku mungkin. Tapi tiada guna menangisi apa yang telah terjadi bukan?
Anakku pada kesempatan ini, ketika kau sudi mendengarkan aku, aku minta maaf, maaf atas segala yang terjadi. Maafkan ibumu, nak. Ibu sangat sayang padamu. Kata-kataku tak bisa merubah semua yang telah terjadi. Aku tahu itu. Apapun yang kau minta untuk membayar hal itu, aku sudi. Aku rela melakukan apa saja. Aku rela sujud di hadapanmu. Sampai aku menangis darah sekalipun, akan aku lakukan untuk bisa menghapus perasaanmu padaku. Walaupun hanya secuil cinta saja yang kau beri.
Anakku, walaupun kau bosan mendengar cerita ini, akan ku ceritakan kembali padamu. Ayahmu meninggalkan kita ketika kau berusia dua belas tahun. Aku sangat terpukul. Aku baru menyadari kalau aku mencintai ayahmu. Aku kehilangan pegangan. Aku rapuh. Kalau saja tak ada kamu, anakku, aku ingin mati saja bersama suamiku, ayahmu. Aku harus seolah-oleh tegar untukmu anakku. Dan kematian ayahmu membuat mereka, keluarga ayahmu, semakin gencar menyakiti aku. Mungkin kau masih ingat ketika belum genap tujuh hari kematian ayahmu, kita harus pindah rumah, karena rumah kita, rumah suamiku, rumah ayahmu dijadikan warisan ketiga anaknya yang terdahulu. Kau menangis saat itu. Tangisanmu membuat iba nenekmu. Dia memberikan sedikit bagian di belakang sebagai tempat tinggal kita. Walaupun kecil, itulah surga kita. Tempat tinggal kita.
Sejak saat itu kita mulai menata hidup kita kembali bukan ? kita kembali tenang. Mereka, keluarga ayahmu, sudah puas dengan mengambil semua warisan ayahmu. Mereka sedang sibuk dengan itu. Hubungan kita yang semula retak mulai tersatukan kembali. Ternyata indah ya, nak.
Anakku, delapan tahun yang lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki. Ia baik. Ia pintar. Ia dewasa. Aku rasa ia pantas menggantikan posisi bapak untukmu. Hanya saja ia lebih muda delapan tahun daripada aku. Aku rasa itu bukan suatu masalah. Asalkan kita saling mencintai, itu cukup. untuk pertama kalinya aku merasakan cinta. Aku seperti kembali muda. Ternyata cinta indah ya sayang. Akhirnya kami menikah. Untuk pertama kalinya aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Tentunya setelah aku mendapatkan engkau anakku. Kau adalah pemberian terbaik. Tapi ternyata aku dilahirkan tidak untuk menikmati bahagia. Semua keluarga besarku, keluarga besar ayahmu, teman-temanku, menentang perkawinan itu. Menyakitkan memang. Tapi yang lebih menyakitkan kelakuanmu, anakku. Aku semula mengira kamu menyetujui pernikahanku. Tapi ternyata aku keliru. Kau kembali berontak padaku. Hubungan kita yang mulai menyatu kembali retak, bahkan pecah. Hubungan kita kaku. Beku. Kau menjadi dingin padaku. Itu sangat menyakitkanku. Aku mengira akan mendapatkan dukungan darimu dalam menghadapi mereka. Tapi ternyata kau semakin menjatuhkanku. Tapi aku tidak menyalahkanmu, anakku. Memang tidak mudah menerima seseorang untuk menggantikan kedudukan ayahmu. Satu hal yang harus engkau tahu anakku, ayahmu tidak akan pernah tergantikan. Bahkan di hatiku. Dia akan selalu bersama kita. Tapi semua sudah terjadi. Aku tidak mungkin bercerai dengan suamiku. Aku diajari ayahmu untuk tidak menyerah. Untuk tidak menjadi kalah. Asalkan yang aku kerjakan benar dimata Tuhan, aku akan pertahankan. Maafkan aku anakku. Ini adalah kebahagiaanku. Kebahagiaan yang pertama kali ku dapatkan. Tak akan kubiarkan orang lain merenggutnya.
Mungkin sudah terlalu lama aku bercerita panjang lebar. Mungkin kau bosan mendengarnya. Tapi terima kasih anakku, kau mau mendengarkan aku selama itu, walaupun aku tahu kau belum bisa mengerti. Kau belum bisa memaafkan aku. Tapi sudah lega rasanya ketika aku sudah melakukan pengakuan di hadapanmu.
** Teruntuk dua dewi yang akan selalu ada di hati
No comments:
Post a Comment