" Cinta itu nanti akan membunuhmu, Devin. Biarlah hubungan kita seperti ini. Tanpa pretensi. Just sex. Lust. That's all." katamu sambil menyalakan sebatang rokok yang kau taruh di samping tempat tidur tadi sebelum kita bercinta. Tubuhmu bersandar pada bantal dan hanya tertutup selimt sampai ke pinggangmu saja. Dadamu memantulkan temaram kuning cahaya lampu kamar motel murahan itu. Bibirmu yang kemerahan karena gincu itu mengepulkan asap tebal yang seketika memenuhi ruangan.
"Tapi aku benar mecintaimu. Sangat mencintaimu" kataku singkat sambil menaruh kepalaku di pahamu. Kamu hanya menyeringai. "Cinta ?" katamu singkat disertai tawa kecil. Kembali kau isap dalam rokok filter yang kau jepit di jarimu yang lentik. Asap tebal mengepul dari ujung bibirmu. "Taik dengan cinta !" ujarmu sinis. Kubelai dan kucium perutmu. "Kau tahu apa tentang cinta ?" tanyamu retoris. Aku hanya diam, karena ucapannya benar. Aku tak tahu benar apa itu cinta. Usiaku menginjak 25 tahun, dan saya belum pernah merasakan cinta sebelumnya. Dewi, perempuan di depanku, adalah cinta pertamaku. Dewi yang berdandan menor dan berpakaian seksi. Dewi yang selalu menggoda setiap lelaki. Dewi yang setiap malam mangkal di terminal. Dewi yang berprofesi sebagai wanita panggilan.
No comments:
Post a Comment