Namanya Arimbi. Lebih tepatnya Dewi Arimbi. Anaknya mungil dengan kulit kecoklatan. Dia tidaklah cantik. Dia tidak terpandai di kelasnya. Dia juga tidak populer. Malah ia cenderung diam. Jika teman-temannya asyik bercerita gosip dengan teman-teman wanita yang lainnya, ia duduk di pojokan, membaca novel yang ia pinjam dari perpustakaan. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang menarik darinya. Tak pernah bosan aku melihatnya. Bahkan ketika ia izin tidak masuk, akan ada sepi kurasa. Tapi kalau ditanya apakah aku mencintainya, akan ku jawab tegas : TIDAK! Aku sama sekali tidak mencintainya. Dia sangat jauh dari kriteriaku terhadap perempuan.
Beberapa hari ini Arimbi tidak terlihat seperti biasanya. Meskipun diam, tapi tak ada cahaya terpancar dari wajahnya. Kini ada raut kesedihan, meski samar. Ku tanya Zaskia sahabatnya, yang kebetulan duduk satu bangku dengannya. Tapi tak juga ada jawaban. Zaskia juga merasakan hal itu tapi tak tahu apa penyebabnya. Ah, Arimbi, kenapa kau jadi murung seperti itu ...
***
Arjuna. Entah kenapa nama itu selalu saja melayang-layang di pikiranku. Sejak tanpa sengaja aku pergoki ia sedang memandangku, dan mata kita beradu. Seketika ia memalingkan muka. Aku pun langsung menunduk malu. Tapi tahukah betapa jantung ini berdetak tak karuan. Ku alihkan perhatianku ke novel yang sedang ku baca. Bukan apa apa. Aku hanya ingin menyembunyikan debar ini saja. Tapi masih saja, efek dari sepersekian milidetik tatapan itu tak menghilang. Justru terbayang-bayang sampai sekarang.
Arjuna, seorang yang menjadi primadona. Ia adalah aktivis organisasi, aktif di basket, ketua OSIS, dan punya segudang prestasi lainnya. Kulitnya putih bersih. Perawakannya menjulang dan atletis. Tapi yang paling menarik adalah matanya yang tajam dan mampu melelehkan semua yang ditatapnya. Maka siapa sih yang tidak mengidolakan seorang Arjuna. Termasuk aku, meski ku sembunyikan perasaan ini. Tidak seperti Zaskia yang terang terangan mengekspresikan perasaannya pada Arjuna. Aku tidak bisa. Apakah aku ini, seorang yang pendiam, hitam, tidak terkenal. Tidak mungkin lah seorang Arjuna melirik padaku.
Tapi tatapan super singkat itu merubah semuanya. Sepertinya Arjuna menatapku. Memperhatikanku. Ah bagaimana ini. Mungkinkah aku hanya ke geer an ?
Inilah yang membuat aku murung selama ini. Hatiku telah tertusuk tajamnya tatapannya. Hatiku meleleh. Aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada Arjuna.
***
Bel istirahat telah berbunyi. Aku masih melihat Arimbi duduk di bangkunya. Kali ini masih dengan wajah murung. Ku beranikan mendekatinya. Jarak tempat dudukku dengannya mungkin hanya beberapa meter. Tapi seakan jauh berkilo-kilo meter. Ada ketakutan dan keengganan. Gemuruh jantung ini mengiringi langkahku, seperti suara drum mengiringi pengumuman pemenang suatu kompetisi. Hanya tinggal satu langkah lagi, tetapi entah kenapa kakiku memaku. Bibirku pun membisu. Arimbi menengok ke arahku. Langsung ia tundukkan muka. Pipinya memerah tanda malu. Oh begitu cantiknya ia. Kali ini aku yakin dengan perasaanku. Aku mencintainya. Tidak ... ! Aku sangat mencintainya
Arimbi yang tak sempurna. Tak sesempurna Dilla mantanku yang tinggi semampai dengan rambut legam panjangnya terurai. Tapi ketidaksempurnaan itu yang memaku aku di sini. Satu langkah dari tempat duduknya dengan gemuruh detak jantung.
"Namaku ... Arjuna " kataku sambil mengulurkan tangan. Hal bodoh pertama yang kulakukan. Bukankah kita satu kelas. Sudah pasti dia tahu namaku. Kenapa aku malah mengajaknya kenalan.
"Boleh aku duduk di situ? " Tanyaku menunjuk bangku di sampingnya yang kosong. Ia mengangguk mengiyakan.
Ia masih menunduk fokus pada novelnya. Tidak seperti dengan teman teman wanitaku yang langsung kegirangan ketika ku sapa. Mereka langsung agresif ngobrol denganku. Perempuan ini beda. Malah aku yang dijadikan kikuk. Tak tahu harus ngomong apa.
"Ehm... Baca buku apa ?" Tanyaku. Ia hanya menutup sebentar bukunya dan menyodorkan sampulnya kepadaku, berharap aku membacanya sendiri.
"Suka Dewi Lestari ?" Tanyaku kemudian ketika ku baca judul novel yang ia baca. Ia mengangguk kecil.
"Gila ni cewek, susah banget diajak ngobrol" batinku
"Kenapa ?" Mungkin ini pertanyaan yang tepat untuk membuatnya mengeluarkan suara. Ia menengok ke arahku.
"Suka aja" jawabnya singkat dan kembali ke novelnya.
" Nggak ada alasan lain ?"
"Aku suka pemikirannya. Gaya tuturnya. Dewasa dengan bahasa yang mudah dipahami. Mengajari tanpa merasa diajari..... Suka baca juga ?"
"Nggak sih " kataku sambil garuk-garuk kepala.
"Maaf, bukannya aku nggak sopan, tapi aku mau menyelesaikan membaca novel ini, boleh ?"
Jleb! Secuil katanya mampu membuatku diam sementara. Aku mencerna kata katanya. Aku ditolak.
"Maaf kalau aku mengganggu mu" kataku singkat dan langsung balik kanan menahan malu.
***
Hari ini dia mengajak ngobrol aku. Bahkan ia minta duduk di sebelahku. Jantungku berdetak tak karuan. Sampai sampai aku bisa mendengarnya. Aku hanya takut kalau dia juga mendengarnya. Aku diam dan tak berani menatapnya, meski dengan berbagai cara ia mencoba untuk mengobrol denganku. Aku khawatir kalau apa yang ada dalam hatiku akan diketahui dari wajahku ketika berbincang dengannya. Makanya aku tak mau berlama lama bercengkerama dengannya. Ku bilang saja aku mau meneruskan membaca .. dia langsung pergi ...
No comments:
Post a Comment