Sunday, October 4, 2020

KUINGIN KAU MENGERTI

 Aku hanya ingin kau tahu, anakku. Bukan aku ingin dikasihani  aku menceritakan kisahku. Aku hanya ingin engkau tahu. Jika kau tak mengerti, tak apa. Aku mengerti. Anggap saja ini sebagai angin lalu. Anggap saja kau tak mendengar kisahku.

Kau tahu, anakku. Ayahmu dan aku menikah bukan atas nama cinta. Ayahku, kakekmu, memaksa aku menikahi ayahmu. Kau tahu sendiri kakekmu, anakku. Jika beliau sudah menginginkan sesuatu, tak ada yang bisa menghalangi. Air mataku tak mampu menghalangi kakekmu untuk menjodohkan aku dengan ayahmu. Ayahmu saat itu duda dengan anak tiga. Bahkan ayahmu pernah menikah dua kali sebelum dengan aku. Tetapi ayahmu gagal mengarungi bahtera perkawinan dengan wanita-wanita sebelum aku. Akhirnya ayahmu bercerai dengan mereka. Dan  ayahmu memilih aku sebagai pendampingnya, walaupun itu mendapat tentangan dari semua keluarganya. Keluarga ayahmu tak menghendaki aku berada di tengah-tengah keluarga besar mereka yang terpandang di masyarakat. Kata mereka, aku hanya ingin mengeruk harta dan memanfaatkan kedudukan ayahmu saja. Padahal persetan dengan itu semua. Aku tak butuh uang dan kehormatan mereka. Aku dipaksa!

Ketika aku menikah dengan ayahmu, tak ada satupun keluarga ayahmu yang datang memberi restu. Ayahmu datang sendirian menikahiku. Waktu itu aku hanya bisa diam menuruti kehendak kakekmu, walaupun sebenarnya ada tangis dalam hati. Upacara pernikahan berjalan meriah, walaupun hatiku tak semeriah pesta itu. Tapi aku berusaha larut dalam kebahagiaan. Dia sudah menjadi suamiku. Aku tak bisa mengubah itu. Aku hanya bisa mengubah perasaanku padanya. Aku mulai berusaha mencintai dia.

Seminggu kemudian, aku di bawa ayahmu ke rumahnya. Tak ada pesta meriah untuk menyambutku. Kedua adik perempuan ayahmu dan ibunya telah memasang wajah tak senang ketika berhadapan denganku. Tak ada senyum. Yang ada hanyalah ludah mereka yang mengenai bajuku ketika aku melalui mereka. Sadis memang. Tapi ayahmu menenangkan aku. Kau tahu anakku, demi ayahmu aku tak mengumbar emosiku. Aku berusaha bersabar. Sabar yang akhirnya aku tahu, tak akan pernah berakhir. Sabar yang harus aku tanam selamanya. Selama aku menjadi istri ayahmu.

Anakku, semenjak saat itu aku tinggal dengan ayahmu dan keluarga besar mereka. Bisa kau bayangkan anakku, ketika dua kutub yang berlawanan disatukan dalam satu tempat. Mereka akan saling menolak. Demikian aku dan keluarga ayahmu. Apa yang aku lakukan semuanya salah di mata mereka. Bahkan diamku ketika mendapat cibiran mereka pun merupakan kesalahan. Dan ayahmu tak bisa berbuat apa-apa. Yang selalu dan selalu dia katakan hanyalah menyuruhku untuk bersabar. Mungkin kalau penganugerahan penghargaan, akulah pemenangnya sebagai wanita tersabar di seluruh dunia. Setiap hari telingaku memerah mendengar ucapan mereka. Tapi seperti biasanya, ayahmu hanya bisa menyuruhku untuk bersabar ketika aku mengadukan perbuatan mereka. Aku merasa ayahmu tidak berguna sebagai seorang laki-laki, satu-satunya laki-laki yang ada di keluarganya. Ayahmu tak mempunyai kekuasaan penuh dalam keluarganya, walaupun dia laki-laki. Bagaimana aku bisa mencintai laki-laki seperti itu, laki-laki yang tak mampu melindungi perasaan istrinya ?

Empat tahun kemudian aku mempunyai kau anakku, seorang putri yang menurutku sangat cantik. Walaupun kau legam tapi kaulah permata hitamku. Biarpun orang-orang menyebutmu jelek, tapi kaulah anakku. Kehadiranmu adalah pelipur hatiku. Seakan terobati semua siksa batin yang aku alami selama ini. Awalnya aku berharap kehadiranmu merubah sikap mereka, atau minimal nenekmu, ibu ayahmu. Tapi ternyata aku salah. Mereka semakin gencar mengintimidasi aku. Aku tak tahan. Ingin sekali aku pisah dengan ayahmu saat itu. Tapi ayahmu melarangku. Ia tak ingin mengalami kegagalan yang ketiga kalinya. Ayahmu mengatakan kalau aku cerai dengannya berarti aku kalah. Aku menyerah. Benar sekali kata ayahmu, nak. Aku tak mau kalah dengan mereka. Aku wanita kuat. Walaupun sakit, aku mencoba untuk bertahan.

Hari demi hari kau tumbuh anakku. Kau sehat. Dan aku senang akan hal itu. Tapi mereka tidak. Mereka selalu iri melihat aku bahagia. Tapi seperti biasa anakku, ayahmu tak mampu berbuat apa-apa. Demi membungkam mereka, ayahmu mau menuruti semua keinginan mereka. Ayahmu sering melupakan aku dan kamu, anakku. Bisakah kau rasakan perasaanku, anakku, rasanya di lupakan ? ketika ayahmu memberi mereka nasi dan memberi kita sepotong roti tiap hari ? perasaan marah kepada ayahmu lah yang membuat aku sering memukulmu. Maafkan aku anakku. Aku tak bermaksud begitu. Aku bukan ibu yang baik buatmu. Aku tak menyalahkanmu ketika akhirnya kau berontak. Kau menjadi anak yang sulit diatur. Tapi kau tahu anakku, itu menyakitkanku. Berontakmu semakin aku ingin memukulmu, walau sebenarnya aku tak ingin. Kau tahu anakku? Sering ketika kau tertidur, aku membelai rambut lurusmu, menangis di hadapmu, aku mengucapkan maaf atas nasibmu, dan nasibku mungkin. Tapi tiada guna menangisi apa yang telah terjadi bukan?

Anakku pada kesempatan ini, ketika kau sudi mendengarkan aku, aku minta maaf, maaf atas segala yang terjadi. Maafkan ibumu, nak. Ibu sangat sayang padamu. Kata-kataku tak bisa merubah semua yang telah terjadi. Aku tahu itu. Apapun yang kau minta untuk membayar hal itu, aku sudi. Aku rela melakukan apa saja. Aku rela sujud di hadapanmu. Sampai aku menangis darah sekalipun, akan aku lakukan untuk bisa menghapus perasaanmu padaku. Walaupun hanya secuil cinta saja yang kau beri.

Anakku, walaupun kau bosan mendengar cerita ini, akan ku ceritakan kembali padamu. Ayahmu meninggalkan kita ketika kau berusia dua belas tahun. Aku sangat terpukul. Aku baru menyadari kalau aku mencintai ayahmu. Aku kehilangan pegangan. Aku rapuh. Kalau saja tak ada kamu, anakku, aku ingin mati saja bersama suamiku, ayahmu. Aku harus seolah-oleh tegar untukmu anakku. Dan kematian ayahmu membuat mereka, keluarga ayahmu, semakin gencar menyakiti aku. Mungkin kau masih ingat ketika belum genap tujuh hari kematian ayahmu, kita harus pindah rumah, karena rumah kita, rumah suamiku, rumah ayahmu dijadikan warisan ketiga anaknya yang terdahulu. Kau menangis saat itu. Tangisanmu membuat iba nenekmu. Dia memberikan sedikit bagian di belakang sebagai tempat tinggal kita. Walaupun kecil, itulah surga kita. Tempat tinggal kita.

Sejak saat itu kita mulai menata hidup kita kembali bukan ? kita kembali tenang. Mereka, keluarga ayahmu, sudah puas dengan mengambil semua warisan ayahmu. Mereka sedang sibuk dengan itu. Hubungan kita yang semula retak mulai tersatukan kembali. Ternyata indah ya, nak.

Anakku, delapan tahun yang lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki. Ia baik. Ia pintar. Ia dewasa. Aku rasa ia pantas menggantikan posisi bapak untukmu. Hanya saja ia lebih muda delapan tahun daripada aku. Aku rasa itu bukan suatu masalah. Asalkan kita saling mencintai, itu cukup. untuk pertama kalinya aku merasakan cinta. Aku seperti kembali muda. Ternyata cinta indah ya sayang. Akhirnya kami menikah. Untuk pertama kalinya aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Tentunya setelah aku mendapatkan engkau anakku. Kau adalah pemberian terbaik. Tapi ternyata aku dilahirkan tidak untuk menikmati bahagia. Semua keluarga besarku, keluarga besar ayahmu, teman-temanku, menentang perkawinan itu. Menyakitkan memang. Tapi yang lebih menyakitkan kelakuanmu, anakku. Aku semula mengira kamu menyetujui pernikahanku. Tapi ternyata aku keliru. Kau kembali berontak padaku. Hubungan kita yang mulai menyatu kembali retak, bahkan pecah. Hubungan kita kaku. Beku. Kau menjadi dingin padaku. Itu sangat menyakitkanku. Aku mengira akan mendapatkan dukungan darimu dalam menghadapi mereka. Tapi ternyata kau semakin menjatuhkanku. Tapi aku tidak menyalahkanmu, anakku. Memang tidak mudah menerima seseorang untuk menggantikan kedudukan ayahmu. Satu hal yang harus engkau tahu anakku, ayahmu tidak akan pernah tergantikan. Bahkan di hatiku. Dia akan selalu bersama kita. Tapi semua sudah terjadi. Aku tidak mungkin bercerai dengan suamiku. Aku diajari ayahmu untuk tidak menyerah. Untuk tidak menjadi kalah. Asalkan yang aku kerjakan benar dimata Tuhan, aku akan pertahankan. Maafkan aku anakku. Ini adalah kebahagiaanku. Kebahagiaan yang pertama kali ku dapatkan. Tak akan kubiarkan orang lain merenggutnya.

Mungkin sudah terlalu lama aku bercerita panjang lebar. Mungkin kau bosan mendengarnya. Tapi terima kasih anakku, kau mau mendengarkan aku selama itu, walaupun aku tahu kau belum bisa mengerti. Kau belum bisa memaafkan aku. Tapi sudah lega rasanya ketika aku sudah melakukan pengakuan di hadapanmu.

 

** Teruntuk dua dewi yang akan selalu ada di hati

SOWAN

 Jingga senja tergambar di ufuk barat. Angin sepoi persawahan menerbangkan ujung jilbabku. Seorang ibu dan anaknya yang duduk di depanku sudah tertidur pulas. Dan laki laki disebelahku sibuk dengan handphonenya. Tapi malah aku suka. Aku yang duduk disamping jendela dengan leluasa memperhatikan suasana luar.

Tepat empat tahun yang lalu aku melewati jalan ini dengan perasaan sedih dan tangis. Aku yang kala itu baru berusia lima belas tahun harus rela berpisah dengan simbok dan bapak. Aku, seorang gadis desa yang bukan dari golongan mampu harus putus sekolah setelah SMP. Sebagai anak pertama dengan adik-adik yang masih kecil dan butuh biaya, aku harus mengorbankan masa remajaku untuk mengenyam pendidikan. Aku harus ke kota untuk bekerja, bekerja sebagai pekerja seks komersial.

Cinta yang Tak Terucap

 Namanya Arimbi. Lebih tepatnya Dewi Arimbi. Anaknya mungil dengan kulit kecoklatan. Dia tidaklah cantik. Dia tidak terpandai di kelasnya. Dia juga tidak populer. Malah ia cenderung diam. Jika teman-temannya asyik bercerita gosip dengan teman-teman wanita yang lainnya, ia duduk di pojokan, membaca novel yang ia pinjam dari perpustakaan. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang menarik darinya. Tak pernah bosan aku melihatnya. Bahkan ketika ia izin tidak masuk, akan ada sepi kurasa. Tapi kalau ditanya apakah aku mencintainya, akan ku jawab tegas : TIDAK! Aku sama sekali tidak mencintainya. Dia sangat jauh dari kriteriaku terhadap perempuan.

Beberapa hari ini Arimbi tidak terlihat seperti biasanya. Meskipun diam, tapi tak ada cahaya terpancar dari wajahnya. Kini ada raut kesedihan, meski samar. Ku tanya Zaskia sahabatnya, yang kebetulan duduk satu bangku dengannya. Tapi tak juga ada jawaban. Zaskia juga merasakan hal itu tapi tak tahu apa penyebabnya. Ah, Arimbi, kenapa kau jadi murung seperti itu ...

***

Arjuna. Entah kenapa nama itu selalu saja melayang-layang di pikiranku. Sejak tanpa sengaja aku pergoki ia sedang memandangku, dan mata kita beradu. Seketika ia memalingkan muka. Aku pun langsung menunduk malu. Tapi tahukah betapa jantung ini berdetak tak karuan. Ku alihkan perhatianku ke novel yang sedang ku baca. Bukan apa apa. Aku hanya ingin menyembunyikan debar ini saja. Tapi masih saja, efek dari sepersekian milidetik tatapan itu tak menghilang. Justru terbayang-bayang sampai sekarang.

Arjuna, seorang yang menjadi primadona. Ia adalah aktivis organisasi, aktif di basket, ketua OSIS, dan punya segudang prestasi lainnya. Kulitnya putih bersih. Perawakannya menjulang dan atletis. Tapi yang paling menarik adalah matanya yang tajam dan mampu melelehkan semua  yang ditatapnya. Maka siapa sih yang tidak mengidolakan seorang Arjuna. Termasuk aku, meski ku sembunyikan perasaan ini. Tidak seperti Zaskia yang terang terangan mengekspresikan perasaannya pada Arjuna. Aku tidak bisa. Apakah aku ini, seorang yang pendiam, hitam, tidak terkenal. Tidak mungkin lah seorang Arjuna melirik padaku.

Tapi tatapan super singkat itu merubah semuanya. Sepertinya Arjuna menatapku. Memperhatikanku. Ah bagaimana ini. Mungkinkah aku hanya ke geer an ?

Inilah yang membuat aku murung selama ini. Hatiku telah tertusuk tajamnya tatapannya. Hatiku meleleh. Aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada Arjuna.

***

Bel istirahat telah berbunyi. Aku masih melihat Arimbi duduk di bangkunya. Kali ini masih dengan wajah murung. Ku beranikan mendekatinya.  Jarak tempat dudukku dengannya mungkin hanya beberapa meter. Tapi seakan jauh berkilo-kilo meter. Ada ketakutan dan keengganan. Gemuruh jantung ini mengiringi langkahku, seperti suara drum mengiringi  pengumuman pemenang suatu kompetisi. Hanya tinggal satu langkah lagi, tetapi entah kenapa kakiku memaku. Bibirku pun membisu. Arimbi menengok ke arahku. Langsung ia tundukkan muka. Pipinya memerah tanda malu. Oh begitu cantiknya ia. Kali ini aku yakin dengan perasaanku. Aku mencintainya. Tidak ... ! Aku sangat mencintainya

Arimbi yang tak sempurna. Tak sesempurna Dilla mantanku yang tinggi semampai dengan rambut legam panjangnya terurai. Tapi ketidaksempurnaan itu yang memaku aku di sini. Satu langkah dari tempat duduknya dengan gemuruh detak jantung.

"Namaku ... Arjuna " kataku sambil mengulurkan tangan. Hal bodoh pertama yang kulakukan. Bukankah kita satu kelas. Sudah pasti dia tahu namaku. Kenapa aku malah mengajaknya kenalan.

"Boleh aku duduk di situ? " Tanyaku menunjuk bangku di sampingnya yang kosong. Ia mengangguk mengiyakan.

Ia masih menunduk fokus pada novelnya. Tidak seperti dengan teman teman wanitaku yang langsung kegirangan ketika ku sapa. Mereka langsung agresif ngobrol denganku. Perempuan ini beda. Malah aku yang dijadikan kikuk. Tak tahu harus ngomong apa.

"Ehm... Baca buku apa ?" Tanyaku. Ia hanya menutup sebentar bukunya dan menyodorkan sampulnya kepadaku, berharap aku membacanya sendiri.

"Suka Dewi Lestari ?" Tanyaku kemudian ketika ku baca judul novel yang ia baca. Ia mengangguk kecil.

"Gila ni cewek, susah banget diajak ngobrol" batinku

"Kenapa ?" Mungkin ini pertanyaan yang tepat untuk membuatnya mengeluarkan suara. Ia menengok ke arahku.

"Suka aja" jawabnya singkat dan kembali ke novelnya.

" Nggak ada alasan lain ?"

"Aku suka pemikirannya. Gaya tuturnya. Dewasa dengan bahasa yang mudah dipahami. Mengajari tanpa merasa diajari..... Suka baca juga ?"

"Nggak sih " kataku sambil garuk-garuk kepala.

"Maaf, bukannya aku nggak sopan, tapi aku mau menyelesaikan membaca novel ini, boleh ?"

Jleb! Secuil katanya mampu membuatku diam sementara. Aku mencerna kata katanya. Aku ditolak.

"Maaf kalau aku mengganggu mu" kataku singkat dan langsung balik kanan menahan malu.

***

Hari ini dia mengajak ngobrol aku. Bahkan ia minta duduk di sebelahku. Jantungku berdetak tak karuan. Sampai sampai aku bisa mendengarnya. Aku hanya takut kalau dia juga mendengarnya. Aku diam dan tak berani menatapnya, meski dengan berbagai cara ia mencoba untuk mengobrol denganku. Aku khawatir kalau apa yang ada dalam hatiku akan diketahui dari wajahku ketika berbincang dengannya. Makanya aku tak mau berlama lama bercengkerama dengannya. Ku bilang saja aku mau meneruskan membaca .. dia langsung pergi ...

CERAI

 Fragmen Satu

Ibu dua anak itu masih duduk di sofa ruang tamu. Menunggu suaminya pulang. Sudah tiga minggu ini suaminya pulang diatas jam 10.00. Anak-anaknya sudah tertidur pulas di atas kasur tipis di depan televisi. Berulang kali ia tengok pintu. Belum ada tanda tanda suaminya mengetuk pintu. Ia tengok jam dinding. Sudah menunjukkan jam 11.00. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Satu pesan singkat masuk.

"Aku mungkin pulang agak malam. Jangan tunggu aku. Tidurlah dulu."

Ia tutup hp nya. Berbaring di samping kedua anaknya yang terlelap.

Bedug mulai terdengar. Disusul samar suara azan. Maryam, perempuan itu, mengerjap-ngerjapkan matanya. Dilihatnya pintu. Bisu. Dilihat HP disampingnya. Tidak ada tanda pesan masuk. Suaminya tak pulang lagi hari ini. Pernah ia tanya kepada istri Bejo, teman suaminya yang juga bekerja sebagai Sopir, apakah Bejo juga sering lembur, sering pulang pagi ?

"Ah kalau mas Bejo sih nggak suka pulang pagi, kalau sampai pulang pagi gak bakalan aku bukain pintu, gak bakal dapat jatah seminggu" katanya sambil cekikikan.

Ada sedikit rasa cemburu pada hati Maryam. Kenapa suaminya tidak seperti Bejo. Tapi cepat cepat ia tepis rasa itu. Ah tapi masku kan lebih ganteng. Begitu katanya dalam hati.

Maryam melangkah ke dapur, mengambil air wudhu di kuali besar tempat menaruh air untuk memasak dan cuci tangan dan kaki. Baru saja Maryam membasuh mukanya, terdengar suara pintu berderit. Suaminya dengan langkah kelelahan menuju kursi depan. Merebahkan badannya. Mendengkur. Maryam mengambil mukena dan sholat di samping dua anaknya yang masih terlelap. Dalam sujudnya Maryam menangis.

Ada perubahan besar pada sikap suaminya. Suaminya dulu sangat perhatian dan selalu bersikap manis. Sekarang sikapnya berubah acuh. Bahkan tidak kepadanya saja, kepada anak-anaknya, suaminya tak perduli.

Cinta di Ujung Senja

 " Cinta itu nanti akan membunuhmu, Devin. Biarlah hubungan kita seperti ini. Tanpa pretensi. Just sex. Lust. That's all." katamu sambil menyalakan sebatang rokok yang kau taruh di samping tempat tidur tadi sebelum kita bercinta. Tubuhmu bersandar pada bantal dan hanya tertutup selimt sampai ke pinggangmu saja. Dadamu memantulkan temaram kuning cahaya lampu kamar motel murahan itu. Bibirmu yang kemerahan karena gincu itu mengepulkan asap tebal yang seketika memenuhi ruangan.

"Tapi aku benar mecintaimu. Sangat mencintaimu" kataku singkat sambil menaruh kepalaku di pahamu. Kamu hanya menyeringai. "Cinta ?" katamu singkat disertai tawa kecil. Kembali kau isap dalam rokok filter yang kau jepit di jarimu yang lentik. Asap tebal mengepul dari ujung bibirmu. "Taik dengan cinta !" ujarmu sinis. Kubelai dan kucium perutmu. "Kau tahu apa tentang cinta ?" tanyamu retoris. Aku hanya diam, karena ucapannya benar. Aku tak tahu benar apa itu cinta. Usiaku menginjak 25 tahun, dan saya belum pernah merasakan cinta sebelumnya. Dewi, perempuan di depanku, adalah cinta pertamaku. Dewi yang berdandan menor dan berpakaian seksi. Dewi yang selalu menggoda setiap lelaki. Dewi yang setiap malam mangkal di terminal. Dewi yang berprofesi sebagai wanita panggilan.